Category: Movie

London Love Story 3: Review dan Sinopsis

 

Setelah kesuksesan film London Love Story di 2016 dan London Love Story 2 di 2017, di tahun 2018 ini Screenplay Films siap merilis London Love Story 3 untuk melanjutkan cerita cinta antara Dave dan Caramel.

 

Film ini disutradari oleh Asep Kusdinar dengan naskah ditulis oleh Tisa TS dan Sukhdev Sigh, sementara actor dan aktris Poker online yang turut terlibat dalam film ini adalah Michelle Ziudith, Dimas Anggara, Derby Romero dan Amanda Rawles. Inilah synopsis dan reviewnya untuk Anda.

 

Synopsis film London Love Story 3

Pada sekuel ketiga film ini plot cerita masih berkutat pada hubungan asmara antara Dave dan Caramel kekasihnya. Setelah 2 tahun menjalin hubungan cinta, Dave pun siap melamar Caramel.

 

Mereka berdua pun pulang ke Jakarta untuk memberitahu kabar bahagia ini kepada keluarga masing-masing. Dalam suasana bahagia, sebelum pernikahan mereka pun berlibur ke Bali demi bernostalgia akan pertemuan pertama mereka dahulu.

 

Sayangnya acara liburan mereka tak berjalan lancar, di hari pertama Caramel sudah merasa terganggu dengan seorang cowok yang menurutnya mencari perhatian. Anehnya mereka berdua secara kebetulan selalu bertemu pria ini.

 

Tetapi ternyata pria ini, yang belakangan diketahui bernama Rio memang berniat mencari Caramel karena sebuah sebab yang berhubungan dengan masa lalu Caramel.

 

Akhirnya masalah dengan Rio pun selesai hingga akhirnya terjadi malapetaka kepada keduanya, mobil yang dikendarai Dave dan Caramel mengalami kecelakaan dan terjun ke jurang. Caramel pun mengalami kelumpuhan.

 

Bila Anda penasaran apakah pasangan kekasih itu berhasil mewujudkan keinginan mereka untuk bersanding di pelaminan, saksikan London Love Story 3 di bioskop kesayangan.

 

Review film London Love Story 3

Pada film ketiga ini pengambilan gambar tak lagi terlalu banyak mengambil tempat di Inggris melainkan di pulau Dewata Bali. Meskipun demikian faktanya kualitas visual film ini tak lantas berkurang. Semua tempat untuk syuting film ini baik di Bali serta Jakarta masih terlihat mewah serta eksklusif dan konsistem menyuguhkan pemandangan alam yang cantik.

 

Pada film yang ketiga ini konflik yang terjadi menjadi lebih rumit dan serius dibanding kedua film sebelumnya. Cerita berawal dari adegan Caramel yang telah menamatkan pendidikannya di London dan sedang diwisuda. Selain dua pemeran utama, dan pemeran pendukung, Ramzi, hadir dua pemain pendukung baru yaitu Derby Romero dan Amanda Rawles. Keduanya berperan sebagai Dokter.

 

Yang terlihat aneh di sini adalah sosok Derby yang tentu masih terlalu muda sebagai dokter senior, tak terkecuali Amanda yang juga memerankan ketua dokter.

 

Di sisi lain acting Michelle Ziudith memang pantas diapresiasi karena sukses memperlihatkan emosi yang kuat lewat beberapa adegan, termasuk saat harus memerankan  Caramel yang mengalami kelumpuhan. Michelle terlihat cukup total dalam berbagai adegan film tersebut.

 

Yang cukup mengganggu juga dari film ini adalah adegan kecelakaan mereka berdua, yaitu saat mobil Dave terjun ke jurang, visualisasinya terlihat kasar dan aneh. Mobil mereka yang awalnya berjalan di pinggir jurang tiba-tiba berpindah ke jembatan, selain itu melihat gambaran kecelakaan dimana mobil terlempar ke dalam jurang, sangat mengherankan bila keduanya hanya mengalami luka ringan.

 

Terlepas dari berbagai kejanggalan ini film London Love Story 3 masih cukup menyenangkan sebagai hiburan bila Anda tak terlalu kritis menganalisa adegan demi adegan yang mungkin terkesan dipaksakan atau berlebihan. Apalagi deretan actor dan aktris muda yang terlibat dalam film ini berparas lebih dari menarik sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Film The Darkest Hour Sebagai Referensi Film Sejarah Yang Tidak Membosankan

Di tahun 1940 negara Inggris mengalami kepanikan yang besar karena Nazi yang dipimpin oleh Hitler hampir membuat seluruh Negara tetangga bertekuk lutut. Rombongan tentara dictator ini hanya tinggal menyeberang laut sebelum langsung menguasai Britania Raya.

 

Kondisi di dalam negeri pun tak kalah mencemaskan dimana anggota dewan secara serentak melempar mosi tak percaya pada Perdana Menteri Neville Chamberlain yang diperankan  oleh Ronald Pickup. Penyebabnya adalah dirinya dinilai tak mampu memprediksi ancaman serangan yang mengintai Negara saat itu.

 

PM Chamberlein pun mundur karena mosi tak percaya tersebut, tetapi sialnya tak ada kandidat lain dari partainya yang didukung oleh partai oposisi. Pada kondisi tersebut tak ada pilihan lain selain Winston Churchill yang justru dihindari oleh para kolega separtainya karena dianggap keras kepala. Ia adalah pria yang aneh dengan cerutu yang pernah lepas dari mulutnya.

 

Melawan sekuat tenaga

Mengenai Hitler, sang perdana menteri baru hanya mempunyai sebuah cara untuk menghadapinya yaitu melawan sampai titik darah penghabisan. Sementara sejawatnya yang lain, Viscount Halifax (Stephen Dillane) justru merekomendasikan langkah diplomasi. Bagi Churchill sendiri berunding dengan seorang dictator tak jauh bedanya dengan bunuh diri.

 

Di lain pihak situasi tak juga berpihak pada Inggris, dengan pasukan mereka di medan perang sudah terjepit di pesisir Dunkirk dan sewaktu-waktu terancam dengan serangan Nazi yang dapat menumpas mereka. Amerika Serikat yang merupakan sekutu Inggris dalam berbagai kesempatan pun tampaknya tak dapat memberikan banyak pertolongan. Masa-masa tersebut adalah momen yang paling kelam dalam pemerintahannya.

 

Review film The Darkest Hour

Walaupun merupakan film sejarah, tetapi The Darkest Hour bukanlah film yang sangat serius atau membosankan. Film yang dibesut oleh Joe Wright ini dapat ditonton sebagai hiburan yang segar dan seru. Salah satu penyebabnya adalah karakter Winston Churchill yang aslinya memang sangat eksentrik. Di sisi lain pemeran bandar togel sgp sang perdana menteri, Gary Oldman memang menampilkan acting yang menawan. Prestasinya tersebut diganjar dengan Golden Globes lewat peran ini.

 

Kepiawaian acting Gary Oldman terlihat dari kecanggungan PM Churchill waktu berjumpa dengan Raja George VI (Ben Mendelsohn) yang pada waktu itu kurang menyukai sang perdana menteri. Selain itu sedikit kehidupan pribadi Churchill juga diangkat, yaitu tentang hubungannya dengan seorang sekretaris muda (Lily James).

 

Film biopic ini juga mampu mengajak penonton terbahak dengan dialog-dialog segarnya yang ditampilkan pada hampir sepanjang film. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pada film ini juga terlihat begitu manusiawi serta berkarakter kuat. Churchill, sebagai tokoh utama misalnya, memang tampak keras kepala serta menyebalkan dari luar, tetapi sesungguhnya ia pun tak jarang memperlihatkan kebingungan dan kerapuhan.

 

Demikian halnya para karakter si sekitar Churchill, seperti Clementine (Kristin Scott Thomas) sang Istri yang terlihat tegas dan tegar di depan suaminya, faktanya seringkali merasa kesepian. Lawan politik Churchill, seperti sosok Viscount Halifax dan Neville Chamberlein pada film ini pun tak digambarkan dengan negatif. Saat terjadi konflik para penonton lebih banyak dipertontonkan pertentangan pola pikir mereka dan bukan kepribadiannya.

 

Tiap-tiap karakter pun memiliki argument yang sama-sama dapat dipahami. Mungkin inilah sebabnya penonton lebih mudah jatuh simpati pada karakter-karakter pada film ini. Untuk para penonton yang awam dengan sejarah Inggris sekali pun tak akan terlalu sulit memahami film ini karena penyusunannya yang secara naratif. Nah, jangan sampai kelewatan.