Category: PENGOBATAN

Sperma Bisa Digunakan Untuk Mengobati Kanker Serviks?

Sudah jadi rahasia umum jika kanker serviks adalah salah satu pembunuh perempuan terbesar di dunia. Muncul pada leher rahim yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina, hampir semua perempuan dari berbagai usia beresiko menderita kanker serviks. Beruntung kini para ilmuwan menemukan cara baru untuk mengobati kanker serviks yakni menggunakan sperma.

 

Sperma akan digunakan untuk mengantarkan obat kemoterapi dan dianggap sebagai sebuah metode baru yang sangat menjanjikan dibandingkan cara pemberian obat standar. Para ilmuwan meyakini sperma memang dirancang untuk berenang melalui saluran reproduksi perempuan sehingga dianggap jauh lebih efektif. Karena memang obat kemo bisa merusak sel normal bersamaan dengan penghancuran sel kanker sehingga menimbulkan efek samping seperti kelelahan ekstrem dan mual.

 

“Dalam percobaan kami, sel sperma menunjukan kemampuan enkapsulasi obat yang tinggi dan stabilitas pembawa obat Raja poker dengan mudah. Jadi akan meminimalkan efek samping beracun dan akumulasi obat yang tidak diinginkan pada jaringan sehat,” seperti dilansir jurnal ACS Nano.

 

Kesimpulan ini diperoleh dari tim peneliti dari Leibniz Institute for Solid State and Materials Research yang mengisi sel sperma dengan Doksorubisin (bakteri antibiotik untuk kanker) obat kemo umum. Sperma itu ditempatkan dalam piring yang mengandung tumor kanker serviks kecil dan dalam tiga hari, sperma sudah membunuh sekitar 87% sel kanker.

 

Vaksin HPV Tak Sepenuhnya Hambat Kanker Serviks

 

Dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, kanker leher rahim ini jadi penyebab kematian tertinggi. Disebabkan oleh infeksi Human Papilomavirus (HPV), salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan melakukan vaksinasi HPV. Hanya saja menurut Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, vaksin tak bisa memberikan perlindungan 100% pada resiko kanker serviks pada setiap orang.

 

Sekedar informasi, sejauh ini ada 15 jenis tipe HPV  berbahaya di dunia dengan empat jenis di antaranya adalah tipe 16, 18, 45 dan 52 yang ada di Indonesia. Sementara itu, pemerintah hanya memberikan vaksin untuk HPV tipe 16 dan 18 yang memang berisiko tinggi. Kendati begitu, Ahmad tetap menganjurkan perempuan melakukan vaksinasi HPV, seperti dilansir Kompas.

 

“Perempuan yang sudah divaksin harus tetap menjaga kebersihan. Karena efektifitas vaksin akan berkurang jika diberikan pada perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual sebelumnya. Kalau HPV sudah masuk ke dalam sel, vaksin tidak bisa bantu. Vaksin hanya bisa mencegah jangan sampai HPV masuk ke sel. Dan untuk perempuan di atas usia 30 tahun, vaksin harus dikombinasikan dengan Pap Smear dan tes HPV untuk mencegah infeksi,” jelas Ahmad.

 

Ditemukan Jenis-Jenis Baru Serviks

 

Sebuah studi terbaru yang dimuat dalam jurnal Oncotarget menemukan bahwa ada beberapa tumor yang mengandung DNA HPV tapi HPV-nya tidak aktif. Dengan demikian, kanker atau tumor dipicu oleh HPV tetapi HPV bukanlah penyebab langsung perkembangan kanker. Kasus itu menunjukkan kalau cara gen tumor menunjukkan diri berbeda dengan kasus saat HPV jadi aktif sehingga membuat proses terapi pun berbeda.

 

Inilah yang akhirnya memicu keberadaan subtipe kanker serviks jenis baru yang tidak memiliki kerentanan sama seperti kanker serviks lainnya. Penelitian yang sama menyebutkan jika kanker serviks dengan HPV aktif menyumbang 8% dari kasus tumor dengan DNA virus yang lebih banyak pada perempuan usia senior. Dengan demikian, dokter memang harus menguji pasien kanker serviks untuk melihat apakah HPV dalam tubuh aktif atau tidak.