Category: Ulasan Film

The Handmaiden, Film Korea Pertama yang Jadi Pemenang BAFTA

Ajang penyelenggaraan film paling tinggi di Inggris yakni BAFTA Awards di hari Minggu (18/2) malam waktu setempat menjadi momen yang sangat bersejarah untuk industry perfilman Korea. The Handmaiden, film Kore yang menjadi film Negeri Gingseng pertama yang memenangkan ajang tersebut.

The Handmaiden Mampu Menang

Tak hanya menjadi yang pertama memenangkannya, The Handmaiden pun menjadi film pertama dari Korea Selatan yang mana masuk menjadi nomine ajang sekelas Academy Awards itu. the Handmaiden ini memenangkan piala BAFTA untuk sebuah kategori yakni kategori Best Film Not in the English Language.

Fil  yang mana juga memiliki judul Agassi ini pun mampu mengalahkan sejumlah judul film yang kondang lainnya misalnya Elle, Salesman, Loveless, dan juga First They Killed My Father, film karya Angelina Jolie. Meskipun menjadi yang pertama masuk jadi nomine dan juga memenangkannya, akan tetapi diberitakan KBS melalui CNN Indonesia bahwa sang sutradara, Park Chan Wook, dan juga kru-krunya serta pemainnya berhalangan untuk hadir di Royal Albert Hall, London.

The Handmaiden adalah film thriller psikologis erotis yang mana terinspirasi dari novel karya Sarah Waters, Fingersmith. Akan tetapi latar cerita Dewa Poker asli yang mana berlokasi pada era Victoria di Inggris itu diubah menjadi saat Korea di bawah kolonialisasi Jepang.

Film ini berputar pada 4 tokoh yakni seorang wanita berada bernama Lady Hideko yang mana diperankan oleh Kim Min Hee yang mana sudah mewarisi banyak harta. Kemudian ada seorang penipu bernama Fujiwara yang mana diperankan oleh Ha Jung Woo yang mana mengejar harta wanita yang kaya itu. lalu ada seorang gadis pencopet yang bernama Sook Hee yang diperankan oleh Kim Tae Ri. Gadis itu direkrut menjadi pelayan oleh paman dan juga sekaligus wali sang wanita pewaris  tersebut, Kouzuki yang diperankan dengan sangat apik oleh Cho Jin Woong.

Film ini sudah dirilis pada tahun 2016 ini tepatnya tanggal 14 Mei di Cannes Film Festival. Kemudian film ini terpilih menjadi pesaing yang memperebutkan Palme d’Or. Film The Handmaiden ini juga mendapatkan pujian dari kritikus-kritikus dan juga nilai pada lama Rotten Tomatoes mencapai angka 95%. Film yang dirilis secara resmi pada tanggal 1 Juni 2016, The Handmaiden mendapat box office yang besarnya US $37 juta.

Capaian Film Lain di BAFTA

Ajang BAFTA ini nampaknya sangat bergengsi sehingga deretan film yang memenangkannya bisa dikatakan sangat bagus. Daftar pemenang BAFTA Awards 2018 sudah lengkap. Fan film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, film drama criminal termasuk dalam 5 film dengan piala Film Terbaik pada ajang itu pada hari Minggu (!8/2) malam itu.

Selain itu ada juga Film Terbaik pada ajang sekelas Oscar untuk sineas  Inggris itu, Three Billboard juga berhasil membawa pulang piala untuk satu kategori lagi yakni Original Screenplay, Best Actress untuk Frances McDormand, Outstanding British Film, dan juga Best Supporting Actor untuk Sam Rockwell.

Di sisi lainnya, The Shape of Water yang mana menguasai perolehan nomonasi BAFTA di tahun ini dengan 12 nominasi, Cuma berhasil membawa pulang 3 buah piala saja termasuk kategori Best Director untuk Guilermo Del Toro. Sementara itu The Darkest Hour membawa pulang 2 buah piala yakni termasuk untuk kategori Best Actor yang mana didapatkan oleh Gary Oldman.

Eiffel I’m in Love 2: Bagaimana Ulasannya?

Kisah cinta anak SMA bernama Adit dan Tita pada waktu dulu dilanjutkan di sekuelnya, 14 tahun setelah film pertamanya dirilis. Film ini, bagi beberapa orang, sudah ditunggu-tunggu karena mereka ingin tahu bagaimana film ini selanjutnya dikembangkan. Lalu, bagaimana film ini bisa menyedot perhartian penontonnya dan penggemar karakter Adit dan Tita? Begini ulasannya.

Ulasan Film Eiffel I’m in Love

Tak banyak perkembangan yang berarti. Karakter Tita yang mana diperankan oleh Shandy Aulia ini sama dengan terdahulunya. Ia masih jadi sosok perempuan yang manja dengan seorang ibu yang posesifnya kelewatan. Padahal dalam Eiffel I’m in Love 2 ini usianya tak lagi muda, yakni sudah 27 tahun. Ini juga bertolak belakang dari synopsis yang disuguhkan sebelumnya di mana “Tita uang dulunya duduk di kelas 1 SMA sudah menjadi wanita dewasa.”

Padahal di film Eiffel I’m in Love 2 ini usianya TIta sudah 27 tahun namun karakternya tidak menunjukkan sama sekali bahwa ia sudah 27 tahun. Selama 14 tahun ini juga diceritakan bahwa Tita masih menjadi kekasih Adit yang diperankan oleh Samuel Rizal dan menjalani hubungan LDR (jarak jauh).

Adit yang masih menetap di Paris dan Tita sendiri masih menetap di Jakarta dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang dokter hewan. Tiap harinya hubungan mereka digambarkan selalu diwarnai dengan pertengkaran soal hal-hal yang tidak penting.

Dan di usianya yang hampir menginjak 30 tahun konflik yang dihadapi oleh Tita ini adalah kegelisahan pada Adit yang mana tak kunjung melamarnya sementara kedua sahabatnya yakni Nanda dan juga Uni sudah menikah terlebih dahulu.

Cerita yang mana disesuaikan dengan latar waktu era saat ini terasa sedikit atau bahkan sangat tak masuk akal. Hidup Tita sebagai perempuan yang usianya 27 tahun masih dibayangi aturan yang amat sangat banyak dan ketat dari orang tuanya.

Kemana saja Tita pergi, ia masih juga diantar oleh supir pribadinya dan ditemani seorang asisten rumah tangga. Sangat tidak masuk akal, bukan? Dan pulang ke rumah juga tidak boleh lewat dari jam 8 malam. Bahkan di zaman Togel singapura yang sudah dimudahkan dengan segala kecanggihan teknologi, Tita pun dilarang memiliki ponsel untuk berkomunikasi. Walhasil, ia hanya mengandalkan ponsel milik asisten rumah tangganya atau untuk sahabatnya yakni Uni, yang kini sudah jadi kaka iparnya tiap kali ia menanti telepon dari Adit.

Sampai suatu waktu, akhirnya Tita merasakan angin segar soal hubungannya dengan Adit. Setelah 12 tahun tak mengunjungi Paris, ia dan keluarganya memilih untuk pergi ke sana hanya untuk mengurus restoran milik mereka dan juga ayah Adit. Momen itu lah dianggap oleh Tita sebagai waktu yang sangat tepat untuk bertemu Adit dan berharap dirinya dilamar.

Namun lagi dan lagi ada kejanggalan di sana. Dalam kurun waktu satu bulan, ayah Tita memutuskan untuk memboyong seluruh keluarganya untuk pindah ke Paris. Padahal urusan di sana hanya mengelola bisnis keluarga saja yang mana seharusnya cukup ditangani oleh orang tua Tita saja. Di sisi lainnya, film ini mengandalkan nilai nostalgia tanpa banyak hal yang baru dan relevan. Bisa dibilang film ini kurang bisa memuaskan para penggemar film Eiffel I’m in Love sebelumnya.

Namun jika kalian masih tetap ingin menontonnya maka tidak salah kalian menjajal seberapa menariknya Eiffel I’m in Love 2 ini dengan yang sebelumnya.