Eiffel I’m in Love 2: Bagaimana Ulasannya?

Kisah cinta anak SMA bernama Adit dan Tita pada waktu dulu dilanjutkan di sekuelnya, 14 tahun setelah film pertamanya dirilis. Film ini, bagi beberapa orang, sudah ditunggu-tunggu karena mereka ingin tahu bagaimana film ini selanjutnya dikembangkan. Lalu, bagaimana film ini bisa menyedot perhartian penontonnya dan penggemar karakter Adit dan Tita? Begini ulasannya.

Ulasan Film Eiffel I’m in Love

Tak banyak perkembangan yang berarti. Karakter Tita yang mana diperankan oleh Shandy Aulia ini sama dengan terdahulunya. Ia masih jadi sosok perempuan yang manja dengan seorang ibu yang posesifnya kelewatan. Padahal dalam Eiffel I’m in Love 2 ini usianya tak lagi muda, yakni sudah 27 tahun. Ini juga bertolak belakang dari synopsis yang disuguhkan sebelumnya di mana “Tita uang dulunya duduk di kelas 1 SMA sudah menjadi wanita dewasa.”

Padahal di film Eiffel I’m in Love 2 ini usianya TIta sudah 27 tahun namun karakternya tidak menunjukkan sama sekali bahwa ia sudah 27 tahun. Selama 14 tahun ini juga diceritakan bahwa Tita masih menjadi kekasih Adit yang diperankan oleh Samuel Rizal dan menjalani hubungan LDR (jarak jauh).

Adit yang masih menetap di Paris dan Tita sendiri masih menetap di Jakarta dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang dokter hewan. Tiap harinya hubungan mereka digambarkan selalu diwarnai dengan pertengkaran soal hal-hal yang tidak penting.

Dan di usianya yang hampir menginjak 30 tahun konflik yang dihadapi oleh Tita ini adalah kegelisahan pada Adit yang mana tak kunjung melamarnya sementara kedua sahabatnya yakni Nanda dan juga Uni sudah menikah terlebih dahulu.

Cerita yang mana disesuaikan dengan latar waktu era saat ini terasa sedikit atau bahkan sangat tak masuk akal. Hidup Tita sebagai perempuan yang usianya 27 tahun masih dibayangi aturan yang amat sangat banyak dan ketat dari orang tuanya.

Kemana saja Tita pergi, ia masih juga diantar oleh supir pribadinya dan ditemani seorang asisten rumah tangga. Sangat tidak masuk akal, bukan? Dan pulang ke rumah juga tidak boleh lewat dari jam 8 malam. Bahkan di zaman Togel singapura yang sudah dimudahkan dengan segala kecanggihan teknologi, Tita pun dilarang memiliki ponsel untuk berkomunikasi. Walhasil, ia hanya mengandalkan ponsel milik asisten rumah tangganya atau untuk sahabatnya yakni Uni, yang kini sudah jadi kaka iparnya tiap kali ia menanti telepon dari Adit.

Sampai suatu waktu, akhirnya Tita merasakan angin segar soal hubungannya dengan Adit. Setelah 12 tahun tak mengunjungi Paris, ia dan keluarganya memilih untuk pergi ke sana hanya untuk mengurus restoran milik mereka dan juga ayah Adit. Momen itu lah dianggap oleh Tita sebagai waktu yang sangat tepat untuk bertemu Adit dan berharap dirinya dilamar.

Namun lagi dan lagi ada kejanggalan di sana. Dalam kurun waktu satu bulan, ayah Tita memutuskan untuk memboyong seluruh keluarganya untuk pindah ke Paris. Padahal urusan di sana hanya mengelola bisnis keluarga saja yang mana seharusnya cukup ditangani oleh orang tua Tita saja. Di sisi lainnya, film ini mengandalkan nilai nostalgia tanpa banyak hal yang baru dan relevan. Bisa dibilang film ini kurang bisa memuaskan para penggemar film Eiffel I’m in Love sebelumnya.

Namun jika kalian masih tetap ingin menontonnya maka tidak salah kalian menjajal seberapa menariknya Eiffel I’m in Love 2 ini dengan yang sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *